Kamis, 25 November 2010

Me and Myself

Di suatu sore di sebuah padang rumput, dua orang gadis bersandar di bawah pohon rindang. Angin berhembus sepoy-sepoy membelai wajah mereka. Gadis pertama memakai T-shirt berwarna merah, celana jeans, dan sepatu kets berwarna krem. Rambutnya pendek sebahu. Berbeda dengan gadis pertama, gadis kedua memakai blouse, rok pendek lebar dengan renda di bagian bawahnya, dan sepatu teplek. Semuanya berwarna biru. Rambutnya panjang sepinggang. Apakah si gadis kedua ini bobotoh Persib? 0_o Ternyata bukan. Bahkan gadis ini sama sekali tidak mengerti sepak bola. Yeah, biru adalah warna kesukaannya. Walaupun kedua gadis tersebut berbeda jauh dalam hal penampilan, wajah mereka sangat mirip, bahkan sulit dibedakan. Tentu saja, mereka adalah anak kembar. Mereka bukan kembar identik, karakter mereka pun berbeda jauh, bisa dikatakan bertolak belakang. Akan tetapi, perbedaan-perbedaan dalam diri mereka tidak membuat hubungan mereka renggang, justru mereka merupakan saudara yang sangat dekat dan saling melengkapi satu sama lain.

Juni, sang kakak, seorang gadis tomboy yang kekanak-kanakkan, selalu ceria dan berpikiran sederhana, baik hati, ramah, dan senang menolong orang lain. Juli, sang adik, feminin dan perfeksionis, bersikap lebih dewasa daripada sang kakak, sedikit paranoid dan mengkhawatirkan banyak hal, sangat menyukai warna biru. Mengapa mereka bernama Juni dan Juli? Yeah, Juni lahir pada bulan Juni, sedangkan Juli lahir pada bulan Juli. Kok bisa? 0_o Bukankah mereka anak kembar? Tepatnya 30 Juni pukul 23.45 dan 1 Juli pukul 00.15. Jelas? Dah ngerti sekarang?

Sepertinya pengenalan tokoh dicukupkan sampai di sini. Mari kita kembali ke bawah pohon di sebuah padang rumput. Juni dan Juli memejamkan mata mereka, menikmati hembusan angin yang sejuk. Tiba-tiba Juni membuka pembicaraan, "Juli, apakah kau pernah merasakan jatuh cinta."

Juli sedikit terhenyak mendengar pertanyaan sang kakak. "Hmmm, pernah," jawab Juli dengan ragu-ragu.

"Oh, yeah? Dengan siapa?" Juni sangat antusias mendengar jawaban adiknya. 

"Hmmm, aku tak ingin mengatakannya," jawab Juli sambil tertunduk.

Juni memandang Juli dengan keheranan. "Mengapa?"

"Kumohon Juni, aku tidak ingin membicarakannya." Juli menjawab dengan agak ketus. Walaupun Juni lebih tua darinya, dia tidak pernah memanggil Juni dengan sebutan 'Kakak'. Kelahiran mereka hanya berbeda tiga puluh menit.

"Hmmm, baiklah. Apakah kau marah kepadaku, Juli?" Juni bertanya dengan wajah cemas. Dia takut membuat adik tersayangnya marah. Dia sangat menyayangi Juli lebih dari dirinya sendiri.

"Juni, mengapa aku harus marah kepadamu? Kita adalah satu. Aku adalah kau dan kau adalah aku." Juli berkata sambil tersenyum kepada Juni. Dia merasakan kekhawatiran pada diri Juni. Dia tahu bahwa kakaknya adalah orang yang sangat perhatian kepadanya, bahkan lebih perhatian daripada orang tua mereka.

Juni tersenyum lega, "Mungkin karena pertanyaanku sebelumnya."

"Tidak, tentu saja aku tidak marah kepadamu," balas Juli, berusaha menenangkan sang kakak.

"Terima kasih, Juli. Maafkan jika aku bersalah kepadamu." Juni tersenyum dan membelai adiknya.

"Juni, kau tak perlu meminta maaf. Tak ada yang perlu dimaafkan." Juli pun membalas senyum Juni.

Matahari pun terbenam. Hari mulai malam. Akan tetapi, tidak terdengar burung hantu yang suaranya merdu. Mereka pun kembali ke rumah.

Ada hal yang sangat mengganjal di pikiran Juni. Mengapa Juli tertutup kepada dirinya, padahal selama ini mereka selalu berbagi hal apa pun? Tidak pernah ada yang ditutup-tutupi.

Malam itu Juni tak bisa tidur karena memikirkan hal tersebut. Ia merasa harus mencari tahu apa yang terjadi dengan adiknya. Kepada siapakah Juli jatuh cinta dan mengapa ia tak ingin membicarakannya?

Keesokan harinya, Juli kembali normal. Juni sama sekali tidak mencoba untuk membahas pembicaraan mereka kemarin. Begitu pula dengan hari-hari berikutnya, Juni tidak pernah menanyakan kembali pertanyaan yang sebelumnya ia tanyakan di bawah pohon di sebuah padang rumput. 
 
Tanpa sepengetahuan Juli, Juni berusaha mengumpulkan informasi mengenai siapa orang yang dicintai Juli. Ia bertanya kepada teman-teman Juli. Akan tetapi, tak seorang pun tahu. Tentu saja, ia adalah orang terdekat Juli. Jika dirinya saja tidak tahu, apalagi orang lain. Hal ini akan menjadi hal yang sulit bagi Juni. Akan tetapi, ia tak akan menyerah sampai ia tahu siapa orang yang dicintai Juli. Semangat!



*to be continued

**********************************************************************************

Hahahahaha... Gw membelah diri :))

Knp ceritanya jadi bersambung gini? Jadi cerber dong, bukan cerpen.
Mentok, asli ga tau mau nulis apa lagi. Idenya cuma sebatas percakapan di bawah pohon.
Sama sekali ga ada ide orang seperti apakah yg dicintai Juli, langkah apakah yg akan dilakukan Juni untuk mengungkap rahasia tersebut.
Sepertinya saya harus lebih sering lagi bercakap2 dgn diri sendiri untuk mendapatkan ide lagi. Fyuh!
Dalam cerpen ini gw mempartisi karakter gw menjadi 2 orang yg berbeda, tapi kembar, biar tetep jadi "Me & Myself". Tapi gw kepikiran juga buat bikin "My & Myself" ini versi psycho-nya. Jadi Me & Myself adalah satu orang dengan 2 kepribadian.

O ya, setelah dipikir2 lagi, ternyata tokoh Juni & Juli yg gw bikin ini mirip Tomomi dan Mikage di "Magic Girls", anime yg gw tonton waktu SD. Tomomi ama Mikage bisa telepati, tapi gw ga akan bikin Juni dan Juli bisa telepati juga.
Sebenarnya gw pingin tokoh anak kembar ini sebagai anak kembar yg aneh. Pgnnya sih mereka lahirnya di tahun yg berbeda, yg satu lahir 31 Desember dan satu lagi 1 Januari, tapi kayaknya terlalu ekstrem, jadi ga jadi. Terus kepikiran juga gmn klo yg satu lahirnya 28 Februari, satu lagi 1 Maret, jadi klo tahun kabisat, ulang tahun mereka beda 2 hari. Hahahahaha... Tapi ga jadi ah, kasihan. Lagian aku pgn nama mereka mirip, kepikiran deh untuk membuat mereka lahir di bulan Juni dan Juli. Hahahahahaha...

Awalnya gw pgn bikin cerita serius, biasa lah temanya cinta dan patah hati seperti 2 cerpen gw sebelumnya. Gw juga pgn ceritain setting lebih detail. Salah satu bagian yg gw bikin detail di awal adalah mengenai penampilan mereka, gw pgn menggambarkan perbedaan kepribadian mereka melalui pakaian. Di postingan gw sebelumnya, gw tulis dialog Me pake warna merah dan Myself pake warna biru. Jadinya gw kepikiran untuk membuat kostum mereka merah dan biru saat bercakap2 di bawah pohon. Akan tetapi, saat menggambarkan penampilan Juli, semuanya serba biru. Jadi kepikiran Persib deh. Eh, jadi ga serius deh... Heuheuheu...

 

Rabu, 24 November 2010

Conversation between Me and Myself

At a time, Me and Myself are together. They had a conversation.
Me: "Have you ever fell in love?"
Myself: "Yes, I have."
Me: "With whom?"
Myself: "I don't want to answer it."

Me: "Why?"
Myself: "Please, I don't wanna talk about that."

Me: "Ok, fine. Are you angry with me?"
Myself: "Why am I angry with you? We are the same person."
Me: "Probably because of my questions before."
Myself: "No, I'm not angry with you."
Me: "Thanks, I'm sorry."
Myself: "You don't need to be sorry."

Why am I writing this thing? Hmmm, I think that conversation above can be an inspiration for my next story. Do you think that I really talked to myself? Yeah, sometimes I talk to myself. I am an introvert person, so I rather talk to myself about my problems than to other persons. Probably you will think that I am crazy and have double personalities, but I think I'm fine and please don't be scared of me. Btw, back to my question before, "Why am I writing this thing?"

Jumat, 19 November 2010

Brainstorming

Hmmm, dah lama nih ga upadate blog.
Mau nulis apa ya?
Pgn ngelanjutin bikin cerpen sih, tapi kayaknya tokoh utama dalam cerita yg gw bikin tipenya pasti gitu2 aja, semacem Adel dan Farah.
Habisnya bingung mau nyeritain tokoh yg kayak gmn, berhubung jiwa gw kayak gitu.
Harus observasi kepribadian orang2 kayaknya.
Sempet kepikiran juga, daripada gw bikin beberapa cerpen dengan tokoh utama yg setipe, mendingan gw bikin sebuah cerita besar yg tokoh utamanya sama. Yang pasti ga akan bisa disebut cerpen karena akan berisi beberapa cerita, adegan, dll. Sempet kepikiran juga buat bikin roman, yg nyeritain kehidupan si tokoh utama dari lahir ampe mati, macem cerita Dragon Ball yang nyeritain si tokoh utama ampe mati lebih dari satu kali, ampe punya anak cucu.
Tapi itu artinya setting waktunya panjang, harus survey juga, zaman selama si tokoh utama hidup kan berganti2. Rencananya sih mau bikin tokoh utama dgn karakteristik mirip gw, tanggal lahir sama kayak gw, berarti zamannya sama ama gw.

Sebenarnya gw pingin banget bikin tokoh utama cowok. Kayaknya dunia cowok lebih menarik (sotoy mode: ON). Ya ga tau sih, gw pikir hidup mereka lebih asyik. Kayaknya asyik gitu, mereka ngomongin tentang sepak bola, games, dll yg gw senengin. Heu heu...
Kadang gw suka ngiri ama cowok, trus berharap jadi cowok. Kayaknya ga ribet kayak cewek. Dari segi pakaian, penampilan, kayaknya lebih simple. Trus dari cara berpikir juga, gw merasa klo berurusan ama cewek lebih ribet, soalnya hati lebih dominan daripada logika. Tapi ya suds, saya bersyukur jadi wanita. Hahahahahaha...
Tapi berhubung gw ga tau rasanya jadi cowok, jadi kayaknya gw bikin tokoh utama cewek aja, tapi tomboy, as usual.
Pengalaman hidup gw juga ga banyak, hidup gw datar2 aja, ga banyak kejadian aneh, jadi ga bisa bikin cerita dari pengalaman pribadi gw. Sepertinya gw harus banyak observasi mengenai kehidupan dan karakter orang lain. Hohohohoho...

Kmrn2 sempet nyoba mau nulis tuh roman, tapi belum kepikiran gmn nulisnya. Apakah dimulai dari sejak lahir, sesuai dengan riwayat hidup, atau dibikin per bagian aja, trus ntar disambung2in. Hmmm, bingung deh...

Klo ada yg ga sengaja baca tulisan ini, tolong kasih sarannya ya!!! (emang bakal ada yg baca??? Hahahahah!!!)

Senin, 18 Oktober 2010

Writing in English

Hmmm, I think it has been a long time I updated my blog. Actually, I do not know what I suppose to post here. I really want to write a new story. I want to write story better than before. I want a good storyline in my short story. Sometimes I want to write a novel or longer story, but I still have an idea about the story. I browsed some blogs to find ideas. Yeah, I read many fictional stories a couple days ago. Probably I need more time to write my new story. 

Today, I do not know why I want to write everything in English. Hahaha, I think it is good for me to improve my English. Yeah, while I was browsing blogs to find ideas, I read some blogs in English. Probably that is the reason that made me want to write in English. I hope I can write stories in English too.

I think a lot of things has been happened to me in some last months. I have changed. I felt sad often, more melancholist, begin to write story and poem. I began to read love stories and romance movies. Aaaaaaaaaaaarrghhhhhhhhhhhhhhh!!! It is like I become other person. I like my old personalities. T_T

I think I become more girly, more feminine than before. Yeah, I think that is good for me at least. -_-



 

Senin, 20 September 2010

Mohon Maaf Lahir dan Batin

Selamat Idul Fitri 1431 H
Mohon Maaf Lahir dan Batin

Mohon maaf klo selama saya menulis di blog ini, banyak kesalahan yang saya buat.
Terima kasih untuk teman-teman yang sudah mampir ke blog saya, baik yang sengaja, tidak sengaja, maupun kesasar.

Mohon maaf klo selama ini blog saya isinya kebanyakan nyampah. Mungkin berikutnya blog ini akan banyak berisi cerpen bikinan saya pribadi. Mudah-mudahan klo mood saya bikin cerpen terus berkembang. Mohon doanya ya!!!

Parah, Keberuntungan yang Indah

Farah termangu memandangi sebuah cincin di tangannya. Cincin emas pemberian Lucky. Yeah, tadi siang Lucky secara tak disangka-sangka melamarnya . Hal tersebut sangat mengejutkan. Bagaimana tidak? Farah dan Lucky tidak mempunyai hubungan asmara sebelumnya. Farah pun tidak pernah menaruh perasaan apa pun terhadap Lucky. Lalu mengapa Farah tak langsung menolaknya? Hal tersebut berlangsung tiba-tiba dan tak disangka-sangka. Farah tak sempat berpikir apa-apa. Wanita secerdas Farah bahkan bisa kehilangan akalnya. Namun, bukan berarti pula menerima lamaran Lucky. Farah hanya terdiam dan pergi begitu saja, tanpa mengatakan sepatah kata pun kepada Lucky.

Telepon berdering. Terdengar mama memanggil Farah dari bawah, "Far, ada telpon dari Lucky!"

"Bilang aku dah tidur, Ma!" jawab Farah.

Yeah, Lucky menelepon ke rumah Farah karena Farah langsung mematikan handphone-nya setelah meninggalkan Lucky tadi siang.

Sebenarnya bagaimana hubungan Farah dan Lucky? Mengapa Lucky tiba-tiba melamar Farah? Farah mengenal Lucky sejak kecil. Lucky adalah cucu dari seorang nenek yang tinggal di dekat rumah Farah. Setiap liburan sekolah Lucky mengunjungi neneknya dan bermain bersama Farah dan Indah. Indah? Siapakah Indah? Yeah, Indah adalah sahabat Farah. Mereka tumbuh bersama-sama, bermain bersama, belajar bersama, dan bersekolah di tempat yang sama. Ke mana pun mereka berdua selalu bersama. Sahabat yang tak terpisahkan.

Farah dan Indah adalah dua sahabat yang berbeda karakter. Farah adalah seorang gadis tomboy, keras, dan cerdas, sedangkan Indah adalah gadis yang sangat lembut, feminin, dan memiliki sopan santun yang baik. Farah bisa melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh anak laki-laki seperti bermain sepak bola dan olahraga lainnya. Selain itu, dia juga pandai memanjat dan melakukan permainan anak laki-laki seperti bermain kelereng dan layangan. Farah juga sangat pandai di sekolah, dia selalu menjadi juara kelas. Dia juga pandai memimpin, beberapa kali dia pernah menjadi ketua kelas.

Berbeda dengan Farah, Indah tidak terlalu menyukai aktivitas fisik seperti Farah. Dia lebih suka melakukan aktivitas yang berhubungan dengan seni seperti melukis dan membuat kerajinan tangan. Dia juga pandai memasak, menjahit, dan merajut. Dia juga tidak sepandai Farah di sekolah, bahkan Farah sering membantunya dalam hal pelajaran. Saat Indah diganggu oleh anak-anak nakal, Farah selalu menolongnya dan berkelahi dengan anak-anak nakal tersebut. Sebaliknya, saat Farah dihukum oleh guru atau orang tuanya karena berkelahi, Indah selalu membelanya. Indah selalu berkata, "Farah berkelahi untuk menolongku."

Begitulah persahabatan Farah dan Indah. Saat liburan mereka selalu kedatangan teman, yaitu Lucky. Dia selalu berlibur di rumah neneknya. Lucky mungkin anak laki-laki yang sedikit payah. Dia tidak terlalu pandai bermain sepak bola, sehingga dia selalu dijadikan pemain cadangan. Dia juga tidak pandai berkelahi, sehingga sering menjadi sasaran anak-anak lain. Lucky merasa kesal dan bosan dengan situasi seperti itu, sehingga dia lebih memilih bermain bersama Farah dan Indah.

Awalnya Farah tidak terlalu menerima Lucky dengan terbuka sebagai teman. Farah juga menganggap Lucky sebagai anak yang lemah, bahkan Farah lebih unggul dari Lucky dalam bermain sepak bola dan berkelahi. Lucky juga tidak lebih pandai daripada Farah. Akan tetapi, Indah berhasil membujuk Farah untuk berteman dengan Lucky. Selanjutnya, Farah sering mengajari Lucky bermain sepak bola dan berkelahi. Farah juga sering membantu Lucky mengerjakan tugas liburan. Mereka sudah seperti guru dan murid. Setelah bermain dan belajar bersama, Indah selalu membuat makanan untuk mereka bertiga. Mereka bertiga pun makan bersama-sama. Persahabatan yang sangat indah bukan?

Seiring berjalannya waktu, mereka pun beranjak remaja. Rupanya tumbuhlah rasa suka Indah terhadap Lucky. Indah memberitahukan hal ini hanya kepada Farah. Farah adalah orang yang paling Indah percayai, bahkan melebihi kepercayaan Indah kepada orang tuanya. Hanya Farah dan Indah yang mengetahui perasaan Indah terhadap Lucky. Farah pun tidak pernah menceritakan hal tersebut kepada orang lain. 

Beberapa tahun kemudian, nenek Lucky meninggal dunia. Orang tua Lucky menyewakan rumah peninggalan nenek Lucky kepada orang lain dan Lucky tidak pernah datang lagi ke sana saat liburan. Hal ini tentu saja membuat Farah dan Indah merasa kehilangan, terutama Indah. Indah merasa sedih dan menangis karena tak bisa lagi bertemu dengan Lucky. Namun, Farah menghiburnya dengan mengatakan bahwa suatu saat mereka pasti akan bertemu lagi. "Kalo jodoh ga akan ke mana, Ndah."

Bertahun-tahun berlalu. Mereka pun tumbuh dewasa. Farah dan Indah menjalani karirnya masing-masing. Namun, persahabatan mereka tak pernah berubah. Begitu pun perasaan Indah terhadap Lucky, walaupun terpisahkan oleh jarak dan tidak adanya komunikasi, perasaan Indah terhadap Lucky tidak pernah berkurang.

Bagaimana dengan Lucky? Bagaimana kabarnya? Lucky akhirnya diterima bekerja di sebuah perusahaan setelah sekian lama mencari pekerjaan dan mengalami berbagai penolakan. Yeah, Lucky memang payah. Dia diterima bekerja di perusahaan tersebut karena dia termasuk orang yang bersedia ditempatkan di luar kota dari sekian banyak pelamar. Mengapa Lucky bersedia ditempatkan di luar kota? Yeah, tidak lain dan tidak bukan karena kota tersebut adalah kota tempat almarhumah neneknya tinggal, tempat dia menghabiskan masa liburannya waktu kecil. Lagi pula di sana dia bisa menempati rumah peninggalan neneknya.

Pergilah Lucky ke kota kenangan masa kecilnya. "Farah, Indah, tunggulah kedatangan si Lucky yang payah ini!"

Pada hari pertama kedatangannya, Lucky langsung menaruh barang-barangnya di rumah neneknya dan kemudian pergi mencari Farah dan Indah. Rumah Farah dan Indah tidak pernah pindah. Lucky mendatangi rumah Farah terlebih dahulu. Namun, dia hanya menemukan mama Farah di rumah karena Farah sedang bekerja. Berikutnya, Lucky mendatangi rumah Indah. Di sana pun Lucky tidak menjumpai Indah karena Indah sedang bekerja. Namun, mama Indah mengatakan bahwa Indah akan segera pulang, sehingga Lucky pun memilih untuk menunggu Indah pulang.

Setelah seharian bekerja, Indah merasakan lelah di sekujur tubuhnya. Dia ingin segera sampai di rumah, kemudian mandi air hangat untuk menghilangkan lelah. Akhirnya, sampai juga Indah di pekarangan rumahnya. Dia tidak pernah menyangka hal apa yang sedang menunggunya di rumah. Ia membuka pintu, "Assalamualaikum, aku pulang!"

Betapa terkejutnya Indah saat menatap sesosok pria yang duduk di ruang tamu. Pria tersebut tersenyum dan berkata, "Indah?"

Jantung Indah rasanya seperti terlepas dan berhenti berdetak. Ia terdiam selama beberapa detik, kemudian ia berkata, "Lucky?"

Mereka berdua terdiam. Tidak ada kata-kata di antara mereka.

Sepulang kerja, Farah menyempatkan diri mampir ke toko kue dan membeli kue tart berukuran besar dengan stroberi di atasnya. "Yeah, Indah sangat suka stroberi. Dia pasti suka kue ini."

Farah meninggalkan toko kue setelah membayar di kasir dan bergegas menuju rumah Indah. Entah mengapa hari ini dia sangat ingin membelikan Indah kue. Sebenarnya ini bukan suatu hal yang aneh mengingat Farah sudah sangat sering melakukannya. Farah sering menunjukkan perhatiannya terhadap Indah dengan membelikan banyak hal untuk Indah. Dia tidak segan menghabiskan gajinya untuk Indah. Yeah, baginya Indah sudah seperti saudara kandung yang harus ia lindungi. Farah adalah anak tunggal, tetapi dengan adanya Indah, ia merasa bahwa dirinya adalah seorang kakak yang harus selalu membuat adiknya bahagia.

Sampailah Farah di rumah Indah. Dia melihat Indah dan Lucky beserta keheningan di antara mereka. Farah pun memecah keheningan dengan gembira karena bertemu dengan Lucky, "Lucky payah!!!!!!!!!! Datang 
juga kau."

Mereka bertiga pun berbincang-bincang sambil menyantap kue tart yang dibeli Farah bersama-sama. Banyak sekali hal yang perlu mereka bicarakan. Mereka berbincang-bincang sampai larut malam.

Farah senang sekali karena dapat bertemu dengan Lucky, kawannya, tepatnya murid. Namun, ada hal yang lebih membuatnya bahagia, kedatangan Lucky itu artinya kebahagiaan bagi Indah. Farah sangat mengetahui bagaimana perasaan Indah terhadap Lucky.

Indah sangat senang atas kedatangan Lucky, apalagi Lucky akan menetap. Itu artinya dia bisa setiap hari bertemu dengan Lucky.

Farah, Indah, dan Lucky bisa mengulangi kenangan mereka dahulu. Setiap hari mereka berjumpa dan persahabatan mereka bertiga semakin erat. Demikian pula dengan rasa cinta Indah terhadap Lucky yang semakin dalam.


Farah tersadar dari lamunannya. Dia harus menghadapi kenyataan bahwa tadi siang Lucky melamarnya. Dia bingung dan merasa kesal terhadap Lucky. Mengapa Lucky melakukan hal tersebut? Selama ini Farah menganggap Lucky sebagai murid atau anak buahnya dan berharap Lucky menikahi Indah. Yeah, Lucky memang tidak pernah tahu bahwa Indah mencintainya. Farah menyalahkan dirinya sendiri karena tidak bisa mendekatkan Indah dengan Lucky, tetapi justru Lucky melamar dirinya, bukan Indah. 

Selama mereka bertiga bersama, ternyata tumbuh perasaan kagum Lucky terhadap Farah. Tentu saja Farah yang unggul dalam segala hal dari dirinya dapat membuat dia terpesona. Lucky kagum kepada Farah karena Farah lebih pandai dalam pelajaran. Farah juga lebih jago bermain sepak bola danerkelahi. Lucky menganggap Farah sebagai gurunya. Dia tidak pernah menyangka bahwa dia akan menyukai wanita seperti Farah, padahal dia berangan-angan menikahi wanita yang bersikap lembut dan keibuan, bukan wanita seperti Farah. Akan tetapi, siapa yang dapat menghindari perasaan seperti itu? Tuhan dapat dengan mudah membolak-balikkan hati manusia.

Akhirnya, siang itu Lucky memberanikan diri untuk melamar Farah. Dia tidak mengatakan kepada Farah bahwa dia mencintai Farah. Dia langsung berkata, "Menikahlah denganku?"

Lucky sangat gugup saat itu. Bagaimana tidak? Farah adalah orang yang sangat ia segani. Hanya dua kata tersebut yang bisa keluar dari mulutnya. Sebelum Lucky berkata apa-apa lagi, Farah langsung beranjak pergi.

Sebenarnya, Farah bisa langsung menolak Lucky saat itu juga karena Farah tidak mencintai Lucky. Namun, yang Farah khawatirkan adalah Indah. Bagaimana jika Indah mengetahui bahwa Lucky melamar Farah? Indah pasti akan sangat terluka. Apakah Farah harus mengatakan kepada Lucky bahwa Indah mencintai Lucky? Tidak, Farah sudah berjanji kepada Indah bahwa ia tidak akan memberitahukan hal ini kepada siapa pun. Sebenarnya, solusinya sangat mudah. Farah hanya tinggal menolak Lucky dan menyuruh Lucky untuk menganggap peristiwa tadi siang tidak pernah terjadi dan jangan sampai seorang pun tahu, termasuk Indah. Mudah sekali. Akan tetapi, bagaimana jika Lucky bertanya mengapa tidak boleh adseorang pun yang tahu? Terlalu banyak yang Farah khawatirkan. Lucky mungkin akan bertanya mengapa bahkan Indah pun tak boleh tahu, padahal Indah adalah orang terdekat Farah?

Farah pun berusaha mengenyampingkan kekhawatirannya. Dia memutuskan untuk menolak Lucky dan menyuruh Lucky untuk merahasiakan hal tersebut. Farah pun menyalakan handphone-nya. Ternyata Lucky sudah berkali-kali menghubungihandphone-nya. Farah pun menelepon Lucky.

"Halo, Farah!" terdengar suara Lucky.

"Luck, besok kita ketemu sepulang kerja di tempat tadi siang! Jangan sampai ada seorang pun yang tahu! Ingat, seorang pun!" Farah berkata dengan cepat dan langsung menutup telepon.

"Tunggu dulu, Far! Far! Farah!" 

Farah tidak langsung mematikan handphone-nya lagi. Ia khawatir Lucky tidak mengerti apa yang ia katakan dan bertanya kepadanya. Farah merasa ia berbicara terlalu cepat. Jangan-jangan Lucky bahkan tidak mendengar apa yang ia katakan. Saat ini hatinya sedang gundah. Ia tidak ingin terlalu banyak bicara dengan Lucky. Oleh karena itu, ia berbicara sangat cepat saat menelepon Lucky.

Walaupun Farah berbicara sangat cepat, Lucky masih bisa mendengar kata-kata Farah. Dia juga ingat dengan jelas bahwa Farah memintanya untuk merahasiakan hal tersebut. Lucky sangat gugup, lebih gugup dari sebelumnya. Apakah Farah akan menerima lamarannya? Atau malah sebaliknya, dia akan ditolak? Lucky sudah terbiasa ditolak oleh berbagai perusahaan, tetapi dia belum pernah ditolak oleh wanita. Sebelumnya, Lucky tidak pernah melamar atau bahkan menyatakan cinta kepada wanita. Farah adalah yang pertama. Lucky mencoba menenangkan dirinya sendiri dengan meyakinkan dirinya bahwa akan selalu ada yang pertama kali. Namun, rasanya masih ada yang janggal. Mengapa harus dirahasiakan? Ah, sudahlah tak usah terlalu dipikirkan.

Keesokan harinya, Farah tidak konsentrasi dalam bekerja. Pekerjaannya tak bisa ia kerjakan dengan baik. Ia sibuk mempersiapkan mentalnya untuk bertemu Lucky. Ia tidak ingin salah bicara dan ingin segalanya berjalan lancar sesuai dengan yang ia inginkan.

Begitu pun dengan Lucky, hari itu beberapa kali ia mendapatkan teguran dari atasannya karena sering terlihat bengong saat bekerja. Akhirnya, tiba saatnya pulang. Benar-benar hari yang berat. Namun, hal yang sangat berat baru saja akan dimulai. Apa pun yang akan Farah katakan, bagi Lucky adalah hal yang sangat berat.

Lucky pun bergegas ke tempat di mana dia akan bertemu dengan Farah. Ia tak ingin Farah menunggu lama. Sesampai di sana, Lucky sudah melihat Farah berdiri. Farah berdiri dengan tegak. Sebagai seorang wanita, Farah terlihat gagah dibandingkan wanita pada umumnya. Meskipun demikian, bagi Lucky, Farah terlihat sangat cantik dan elegan. Lucky senang melihat Farah sekaligus merasa sangat gugup. Jantungnya berdetak dengan sangat cepat.

"Far, maaf aku telat!" kata Lucky sambil terengah-engah. Rupanya Lucky berlari menuju ke tempat tersebut.

"Ga apa-apa, aku juga belum lama. Dengar, Luck! Aku ga ingin kita berbicara lama-lama. Jadi, aku langsung aja ke permasalahannya. Luck, maaf aku ga bisa nerima kamu. Aku ga mencintaimu."

Lucky merasa tiba-tiba petir menyambarnya. Dia tahu bahwa hal ini mungkin terjadi. Dia sudah menyiapkan dirinya dengan kemungkinan seperti ini. Akan tetapi, tetap saja saat ini terjadi rasanya sangat pedih.

"Sekali lagi aku minta maaf, Luck! Aku harap hubungan kita tak akan pernah berubah. Persahabatan kita bertiga, dengan Indah. Aku tak ingin Indah tahu dan lupakan bahwa kau pernah melamarku! Aku tak ingin hubungan kita bertiga rusak. Aku tahu kamu pasti terluka, tapi aku mohon, anggap hal ini tak pernah terjadi! Aku yakin kamu orang yang kuat, Luck."

Tanpa sadar air mata mengalir dari mata Lucky. Ya ampun, dia menangis di depan wanita yang dicintainya. Betapa terlihat sangat payah. Yeah, Lucky memang selalu payah di hadapan Farah.

"Hehe, ya ampun aku nangis di depan kamu, Far! Aku emang payah. Masa gini aja nangis. Aku emang ga layak untukmu. Kamu berhak mendapatkan yang jauh lebih baik dari diriku. Iya Far, aku akan berusaha agar persahabatan kita bertiga ga rusak."

Air mata semakin deras membasahi pipi Lucky. Farah merasa kasihan kepada Lucky. Namun, inilah yang harus dia katakan. Tiba-tiba Farah melihat sosok Indah dalam jarak beberapa meter. Farah sangat terkejut. Tidak lama kemudian, Lucky pun melihat Indah. Lucky tampak sangat malu karena Indah melihat dirinya dalam keadaan berlinang air mata.

Ternyata Indah sudah berada di sana sesaat sebelum Lucky datang. Sepulang kerja, Indah tak sengaja lewat tempat itu. Ia melihat Farah sedang berdiri, tampak seperti sedang menunggu seseorang. Indah bermaksud menghampiri dan menyapa Farah, tetapi tiba-tiba Lucky datang. Ternyata orang yang sedang Farah tunggu adalah Lucky. Indah pun mengurungkan niatnya untuk menghampiri Farah dan berdiri agak jauh.

Indah tak bisa menahan air matanya saat Farah dan Lucky menatap ke arahnya. Ia mendengar semua pembicaraan Farah dan Lucky. "Aku mendengar semua pembicaraan kalian."

Air mata semakin deras membasahi pipi Indah. Keheningan meliputi tempat itu selama beberapa saat. Farah sangat kaget dan bingung. Hal yang sangat tak diinginkannya justru terjadi. Indah akhirnya mengetahui bahwa Lucky melamarnya. Pasti perasaan Indah sangat terpukul. Indah pasti merasa dikhianati. Indah pasti kecewa kepada dirinya dan mungkin membencinya.

Indah merasa sangat sedih. Pria yang selama ini ia cintai justru melamar sahabat terdekatnya. Mungkin Farah menolak Lucky karena dirinya. Ia menjadi pengahalang bagi Farah dan Lucky. Mungkin saja sebenarnya Farah juga mencintai Lucky, tetapi Farah tidak ingin melukai dirinya. Dia tahu bahwa Farah sangat peduli kepadanya. Sangat mungkin Farah akan mengorbankan diri untuknya.

Lucky merasa harga dirinya jatuh. Tak hanya Farah yang melihatnya menangis, Indah juga. Dia selalu jadi orang yang payah di hadapan Farah dan Indah.

Tak ada percakapan apa-apa lagi malam itu. Mereka bertiga pulang tanpa membicarakan apa pun lagi. Terlalu banyak yang tak terungkap di antara mereka, terlalu banyak perasaan yang dipendam. Masing-masing dari mereka ingin menjaga perasaan yang lainnya, sehingga banyak sekali hal yang tak dikatakan secara jujur. Setelah hari itu mereka bertiga berusaha bersikap sewajarnya, seolah-olah tak terjadi apa-apa. Akan tetapi, karena banyaknya hal yang tak diungkapkan, kepercayaan di antara mereka pun hilang. Sebesar apa pun usaha mereka untuk bersikap wajar, persahabatan mereka tidak lagi sama. Justru mereka semakin jauh satu sama lain. Pada akhirnya mereka berjalan masing-masing.     

*********************************

Fyuh, ini adalah cerpen saya yang keempat. Dua cerpen pertama saya dibuat saat SMA untuk memenuhi tugas sekolah. Saya tidak menyimpan arsipnya. Cerpen pertama berjudul "Demi Sahabatku" bercerita tentang persahabatan. Cerpen kedua, saya lupa judulnya, bercerita tentang hubungan anak dan orang tua. Cerpen ketiga berjudul "Mengapa Aku Jatuh Cinta Kepadamu?" yang juga dipublikasikan di blog ini, bercerita tentang cinta. Cerpen keempat di atas bercerita tentang persahabatan dan cinta.Yeah, saya memang masih amatir dalam membuat cerpen. Tema yang diangkat pun sangat sederhana dan terlalu umum. Persahabatan dan cinta sudah terlalu sering menjadi tema dalam cerpen, novel, film, lagu, sinetron, dan lain-lain. Yeah, ketauan banget klo gw ini labil dan ga cerdas. Hahahaha...

Cerpen ketiga dan keempat yang jarak pembuatannya dekat memang banyak memilki kemiripan. Temanya seputar cinta segitiga antara seorang pria dan dua orang wanita, tetapi pada cerpen keempat ini saya memasukkan unsur persahabatan di dalamnya dan tidak terfokus kepada satu tokoh. Saya mencoba untuk mengeksplor perasaan ketiga tokoh.

Karakter Farah memiliki persamaan sifat dengan karakter Adel, tetapi saya tambahkan sifat sosial pada tokoh Farah, tidak seperti Adel yang egois, individualis, dan egosentris. Saya juga membuat karakter Lucky yang bertolak belakang dengan karakter Dito. Dito adalah tokoh yang hampir sempurna, sedangkan Lucky justru sangat jauh dari sempurna.

Pada cerpen keempat ini, saya ingin bertindak adil, adil menurut pandangan saya tentunya. Saya tidak ingin endingnya memihak salah satu tokoh atau hanya mengorbankan salah satu tokoh. Oleh karena itu, saya buat endingnya seperti itu, walaupun mungkin sangat mengecewakan.Saya memang memiliki kelemahan dalam menentukan ending, seperti pada cerpen ketiga, saya memiliki sebelas pilihan untuk ending. Namun, untuk cerpen keempat saya paksakan ending seperti itu. Baik atau buruk, ending tersebut adalah pilihan saya.

Pada kedua cerpen saya tersebut, tidak ada pihak yang menjadi penjahat. Semuanya terjadi begitu saja di luar kendali manusia. Pesan yang ingin saya sampaikan adalah bahwa Tuhan berkehendak atas makhluknya. Tuhan berkehendak atas hati manusia. Rasa cinta adalah pemberian Tuhan, sebagai manusia kita harus pandai-pandai mengendalikannya.

Apakah salah Adel dan Indah memendam cintanya? Tidak, mereka tidak salah. Justru menurut saya tindakan mereka sudah benar karena sebagai wanita rasanya kurang baik menyatakan cinta kepada pria. Saya juga cenderung setuju dengan tindakan Adel menghindari Dito. Itu adalah salah satu cara Adel mengendalikan perasaannya.

Apakah Dito dan Elva jahat karena menyakiti hati Adel? Tidak, mereka tidak berniat untuk menyakiti siapa pun. Mereka hanya ingin mencapai kebahagiaan dan mereka tidak pernah mengira bahwa kebahagiaan mereka berarti kesedihan bagi Adel. Apakah Lucky jahat karena lebih memilih Farah daripada Indah? Tidak, Lucky tidak bisa menghindar dari kenyataan bahwa hatinya lebih memilih Farah daripada Indah. Lucky tidak pernah merencanakan untuk menyukai Farah, bahkan dia bercita-cita menikahi wanita yang feminin. Kriteria tersebut justru lebih dekat kepada Indah daripada Farah. Akan tetapi, Lucky tak bisa menghindar jika Tuhan lebih mengarahkan hatinya kepada Farah.

Untuk Adel dan Indah di dunia nyata, bukan salah Dito atau Lucky yang tidak membalas cintamu. Bukan salah Elva dan Farah yang mengambil cinta darimu. Maafkanlah mereka, janganlah kau membenci dan mendendam kepada mereka. Bukan salahmu juga bahwa kau tidak pernah menyatakan cintamu. Jadi, berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Insya Allah kau akan mendapatkan jodoh yang terbaik.

Saya masih amatir dalam menulis cerpen, sehingga masih banyak kekurangan dalam cerpen saya. Saran dan kritik dari para pembaca sangat saya harapkan. Itu pun kalau ada yang baca. Insya Allah ada yang baca karena saya akan memaksa beberapa teman saya untuk membacanya. Komentar dari pembaca sangat saya tunggu. Terima kasih.




Jumat, 20 Agustus 2010

Antara Melawak dan Menulis Cerita

Di postinganku sebelum2nya aku pernah bilang bahwa aku ingin bisa melawak. Ternyata adik bungsuku lebih pandai melawak daripada diriku. Ya, kadang dia akan menjadi sangat menyebalkan, tetapi di saat bersamaan dia bisa membuatku terbahak-bahak. Dia lakukan itu secara spontan. Dia juga pandai berbicara dan membalas kata-kata orang lain. Memang hal tersebut kadang bisa sangat menyebalkan, tetapi bagiku itu sangat lucu. Mungkin aku harus belajar banyak darinya.

Setelah menulis postinganku sebelumnya yang berupa cerpen. Aku merasa ada kepuasan tersendiri saat menulis cerita. Yeah, probably it was because the story is based on true story. Mungkin aku harus mencoba untuk menulis cerita lain. Cerita yang berasal dari imajinasiku sendiri. Sepertinya asyik juga menjadi penulis cerpen. Hmmm, I'll try it.